Mahasiswa Prodi Pariwisata FIB UGM angkatan 2023 melaksanakan serangkaian kegiatan kuliah lapangan di Bali pada tanggal 10-14 Mei 2026. Bersama dengan satu dosen pendamping, Keenan Mukti S.N., S.Par, M.THEM., kuliah lapangan berjalan dengan lancar dan memberikan pengalaman akademik dan praktis bagi mahasiswa dalam memahami dinamika industri pariwisata secara langsung. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai isu pariwisata sebagai suatu sistem yang melibatkan berbagai aktor, kepentingan, dan dinamika pengelolaan yang kompleks. Bali menjadi destinasi yang dipilih untuk kuliah lapangan karena dapat menjadi ruang belajar yang relevan bagi mahasiswa pariwisata untuk memahami secara langsung bagaimana praktik pengelolaan destinasi dijalankan di lapangan. Dengan mengusung tema “Eksplorasi Dinamika Pengelolaan Destinasi dan Industri Pariwisata di Bali”, mahasiswa sekaligus mengimplementasikan teori dan pengetahuan yang sudah dipelajari pada mata kuliah semester VI yaitu mata kuliah Seminar, Pariwisata Bahari, Kajian Pengelolaan Taman Hiburan Tematik, Pariwisata dan Seni, Kajian Perhelatan Pariwisata, serta Interpretasi dan Kepemanduan.

11 Mei 2026, pada hari pertama kegiatan di Bali, mahasiswa melakukan kunjungan edukatif ke Kebun Raya Eka Karya Bali yang terletak di kawasan Bedugul. Kegiatan diawali dengan sharing session bersama pihak pengelola kebun raya. Acara dibuka oleh perwakilan mahasiswa yang bertugas sebagai moderator dalam sesi diskusi tersebut. Pada sesi awal, pengelola memberikan penjelasan singkat mengenai profil Kebun Raya Eka Karya Bali, termasuk fungsi kawasan sebagai tempat konservasi, penelitian, dan koleksi berbagai jenis flora yang berada di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional. Selain itu, dijelaskan pula mengenai upaya pelestarian tumbuhan khas pegunungan tropis serta peran kebun raya dalam mendukung pendidikan dan pariwisata berbasis lingkungan.
Setelah pemaparan materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara mahasiswa dan pengelola. Antusiasme mahasiswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama diskusi berlangsung. Beberapa mahasiswa menanyakan mengenai sistem manajemen dan pengelolaan kawasan Kebun Raya Eka Karya Bali, sementara mahasiswa lainnya tertarik untuk mengetahui pembagian zonasi kawasan serta strategi menjaga keseimbangan antara fungsi konservasi, penelitian, dan pariwisata dengan kehidupan masyarakat sekitar. Namun, karena jadwal kunjungan yang cukup padat dan rombongan harus melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya, sesi diskusi hanya dapat berlangsung dalam waktu terbatas sehingga tidak semua mahasiswa berkesempatan menyampaikan pertanyaannya.
Setelah kegiatan sharing session selesai, mahasiswa diarahkan menggunakan shuttle menuju Rumah Kaca Begonia yang berada di dalam kawasan Kebun Raya Eka Karya Bali. Di lokasi tersebut, mahasiswa dapat mengamati berbagai jenis tanaman begonia, baik yang berasal dari Indonesia maupun koleksi dari luar negeri. Selain berfungsi sebagai area display tanaman hias, setiap koleksi tanaman juga dilengkapi dengan papan informasi yang memuat nama tanaman, asal daerah, jenis, hingga karakteristik masing-masing begonia. Melalui kegiatan observasi tersebut, mahasiswa memperoleh pengetahuan tambahan mengenai keanekaragaman flora serta pentingnya konservasi tanaman hias sebagai bagian dari pelestarian sumber daya hayati.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan di Kebun Raya Eka Karya Bali selesai, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Desa Wisata Penglipuran. Setibanya di lokasi, mahasiswa disambut dengan hangat oleh masyarakat setempat dan diarahkan menuju aula yang telah disediakan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh salah satu sesepuh Desa Penglipuran. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan sejarah terbentuknya Desa Wisata Penglipuran, kondisi geografis desa, tata ruang dan pola permukiman adat, serta nilai-nilai budaya yang masih dijaga dan diterapkan oleh masyarakat hingga saat ini. Selain itu, beliau juga menjelaskan konsep pengelolaan desa wisata berbasis masyarakat (community based tourism) yang menjadi salah satu faktor keberhasilan Desa Penglipuran sebagai destinasi wisata budaya yang dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Setelah sesi pemaparan materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara mahasiswa dan narasumber. Mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan mengenai sistem pengelolaan desa wisata, manajemen organisasi masyarakat, hingga strategi menjaga citra Desa Penglipuran sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Diskusi berlangsung secara aktif dan interaktif sehingga memberikan wawasan baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya pelestarian budaya lokal, partisipasi masyarakat adat, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis budaya dan lingkungan.

Usai sesi diskusi, rombongan melanjutkan kegiatan dengan berkeliling kawasan Desa Wisata Penglipuran sambil mengunjungi area wisata kuliner serta pusat oleh-oleh yang dikelola langsung oleh masyarakat setempat. Pada kesempatan tersebut, mahasiswa membeli berbagai makanan khas Bali, kerajinan tangan, kain tradisional, dan beragam cinderamata lainnya sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku UMKM lokal. Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman wisata budaya, tetapi juga memahami pentingnya pemberdayaan masyarakat lokal dalam mendukung keberlanjutan sektor pariwisata.

12 Mei 2026, pada hari kedua, mahasiswa melakukan kunjungan edukatif ke Monumen Bajra Sandhi yang terletak di Kota Denpasar. Kegiatan diawali dengan sharing session bersama pihak pengelola monumen yang berlangsung kurang lebih selama satu setengah jam. Dalam sesi tersebut, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai sejarah pembangunan Monumen Bajra Sandhi, konsep arsitektur bangunan, serta sistem pengelolaan monumen secara keseluruhan. Setelah pemaparan materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi yang berlangsung aktif. Beberapa mahasiswa menyampaikan pandangan serta kritik terkait manajemen destinasi, penerapan digitalisasi, strategi promosi, hingga keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata di kawasan tersebut.

Usai sharing session, mahasiswa diarahkan untuk melakukan observasi langsung di area monumen yang terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama difungsikan sebagai ruang pamer yang menampilkan sejarah serta kebudayaan Bali, termasuk gambaran kehidupan masyarakat Bali pada masa lampau. Pada lantai kedua, mahasiswa dapat mempelajari informasi mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan. Sementara itu, lantai ketiga merupakan ruang observasi yang menawarkan pemandangan Kota Denpasar dan sekitarnya dari ketinggian.
Selain sebagai destinasi wisata sejarah, Monumen Bajra Sandhi juga kerap dimanfaatkan sebagai lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya, upacara adat, dan festival yang diadakan oleh pemerintah daerah maupun masyarakat setempat. Monumen ini menjadi simbol penting bagi masyarakat Bali dalam mengenang perjuangan sejarah sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap budaya daerah. Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh banyak pembelajaran mengenai pentingnya pelestarian sejarah dan budaya, pengelolaan destinasi wisata berbasis edukasi, serta peran pariwisata dalam memperkuat identitas budaya dan rasa kebangsaan.
Setelah menyelesaikan kunjungan di Monumen Bajra Sandhi, mahasiswa melanjutkan kegiatan eksplorasi ke Garuda Wisnu Kencana Cultural Park atau yang lebih dikenal dengan GWK Cultural Park yang terletak di Kabupaten Badung. GWK merupakan salah satu destinasi wisata budaya paling ikonik di Bali yang terkenal dengan keberadaan patung raksasa Dewa Wisnu yang menunggangi burung Garuda. Patung tersebut menggambarkan Dewa Wisnu sebagai pelindung alam semesta dalam kepercayaan Hindu yang sedang mengendarai Garuda, simbol kesetiaan, pengabdian, dan keberanian. Selain menjadi daya tarik wisata, patung GWK juga menjadi simbol pelestarian seni dan budaya Bali.
Kawasan GWK Cultural Park memiliki beberapa area utama dengan fungsi dan karakteristik yang berbeda. Salah satunya adalah Plaza Wisnu, yaitu titik tertinggi di kawasan GWK yang menampilkan bagian patung Dewa Wisnu setinggi sekitar 23 meter. Area ini menjadi salah satu lokasi favorit pengunjung untuk menikmati panorama kawasan sekitar. Selain itu, terdapat Street Theater yang menjadi jalur utama sekaligus titik awal dan akhir kunjungan wisatawan di kawasan taman budaya tersebut.
Mahasiswa juga mengunjungi Lotus Pond, yaitu area terbuka terbesar di GWK Cultural Park yang sering dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional, seperti konser, festival budaya, dan pertunjukan seni. Selanjutnya terdapat Indraloka Garden, taman dengan panorama alam yang indah dan suasana asri. Nama Indraloka diambil dari istilah surga milik Dewa Indra dalam mitologi Hindu. Kawasan lain yang tidak kalah menarik adalah Amphitheater, yaitu area pertunjukan terbuka dengan tata akustik yang dirancang khusus untuk mendukung berbagai penampilan seni dan budaya. Selain itu, mahasiswa juga mengamati area Tirta Agung yang merupakan ruang terbuka dan sering dimanfaatkan untuk acara berskala menengah, serta sebagai area penurunan penumpang dan parkir kendaraan wisatawan karena lokasinya yang dekat dengan Plaza Bhagawan. Pada bagian pintu masuk utama kawasan GWK terdapat Tirta Amerta yang dihiasi miniatur patung Garuda Wisnu Kencana lengkap dengan air mancur sebagai elemen penyambutan pengunjung.

Melalui kegiatan observasi di kawasan GWK Cultural Park, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai pengelolaan destinasi wisata tematik budaya berskala internasional, pemanfaatan seni dan budaya sebagai daya tarik pariwisata, serta pentingnya pelestarian nilai-nilai budaya lokal di tengah perkembangan industri pariwisata modern. Setelah seluruh rangkaian observasi selesai, mahasiswa berkumpul di Plaza Wisnu untuk melaksanakan sesi foto bersama sebagai dokumentasi kegiatan sebelum meninggalkan kawasan GWK Cultural Park dan melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya
Sebagai penutup eksplorasi di hari ke-2, mahasiswa mengunjungi Pantai Jimbaran untuk menyaksikan matahari terbenam sekaligus menikmati makan malam berupa seafood di pinggir pantai. Pantai ini menawarkan pasir putih dengan ombak yang tenang. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa bersama dosen menikmati suasana kebersamaan sambil berdiskusi dan bersenda gurau.

13 Mei 2026, pada hari terakhir kegiatan kuliah lapangan di Bali, mahasiswa melakukan kunjungan akademik ke Fakultas Pariwisata Universitas Udayana. Kegiatan diawali dengan sesi penyambutan oleh pihak fakultas yang berlangsung di auditorium kampus. Dr. I Gusti Agung Oka Mahagangga, S.Sos., M.Si. sebagai Ketua Program Studi menyampaikan sambutan hangatnya untuk Mahasiswa Pariwisata Universitas Gadjah Mada dalam melakukan pertukaran ilmu pengetahuan dan diskusi akademik.
Kegiatan dilanjutkan dengan sharing session dan diskusi akademik bersama dosen serta mahasiswa Fakultas Pariwisata Universitas Udayana. Pada sesi pertama, materi disampaikan oleh Putu Wira Parama Sutha, S.Par., M.Par. yang membahas berbagai isu pariwisata di Bali, mulai dari overtourism, alih fungsi lahan, kemacetan, hingga tantangan menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan di tengah tingginya aktivitas pariwisata. Melalui pemaparan tersebut, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai dinamika dan tantangan pengelolaan destinasi wisata di Bali yang saat ini menjadi perhatian dalam sektor pariwisata global.
Selanjutnya, sesi kedua diisi oleh dosen Pariwisata Universitas Gadjah Mada, Keenan Mukti Sinatriya Shangga Nagari, S.Par., M.THEM. yang menyampaikan materi berjudul “Ada-apa dengan Jogja?”. Dalam pemaparannya dibahas berbagai fenomena dan dinamika perkembangan pariwisata di Yogyakarta, termasuk perubahan pola wisatawan, pertumbuhan destinasi wisata, hingga tantangan menjaga identitas budaya di tengah perkembangan industri pariwisata modern. Diskusi berlangsung secara aktif dan interaktif dengan berbagai pertanyaan yang diajukan mahasiswa terkait pengelolaan pariwisata berbasis budaya, keterlibatan masyarakat lokal, serta strategi pengembangan destinasi yang berkelanjutan.
Materi yang didiskusikan oleh kedua universitas berfokus pada perkembangan serta berbagai tantangan pariwisata di dua destinasi wisata unggulan Indonesia, yaitu Kota Yogyakarta dan Pulau Bali. Kedua daerah tersebut dikenal memiliki kekayaan budaya, tradisi, dan warisan sejarah yang kuat sehingga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain membahas potensi wisata budaya, diskusi juga menyoroti faktor pendukung perkembangan pariwisata di kedua destinasi. Yogyakarta mengalami perkembangan pariwisata yang pesat sejak beroperasinya Yogyakarta International Airport yang meningkatkan aksesibilitas wisatawan, khususnya wisatawan internasional. Sementara itu, Pulau Bali berkembang sebagai destinasi wisata internasional yang sangat populer, namun menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, kemacetan, serta fenomena tourist-centric atau overtourism yang menyebabkan kepadatan wisatawan dan berdampak pada lingkungan maupun kehidupan sosial masyarakat lokal. Diskusi tersebut juga menekankan pentingnya penerapan pariwisata berkelanjutan guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kenyamanan masyarakat, serta pelestarian budaya dan lingkungan di kedua destinasi wisata tersebut.

Setelah menyelesaikan kunjungan akademik di Universitas Udayana, mahasiswa melanjutkan kegiatan kuliah lapangan ke InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) kawasan Nusa Dua. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh pihak pengelola yang disampaikan oleh I Made Sulasa mengenai profil perusahaan, sejarah pengembangan kawasan Nusa Dua, serta konsep pengelolaan kawasan pariwisata terpadu yang diterapkan oleh ITDC. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa ITDC merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pengembangan dan pengelolaan kompleks pariwisata terintegrasi serta berfokus pada pengembangan destinasi pariwisata kelas dunia yang berkelanjutan. 
Selain itu, mahasiswa juga memperoleh penjelasan mengenai perkembangan kawasan The Nusa Dua sebagai destinasi wisata kelas dunia yang telah dikembangkan selama lebih dari empat dekade dengan luas kawasan mencapai 350 hektare. Pihak pengelola menjelaskan berbagai fasilitas penunjang yang tersedia di kawasan tersebut, seperti hotel berbintang, convention center, golf course, pusat perbelanjaan, hingga sistem pengolahan limbah yang mendukung keberlanjutan kawasan wisata. Tidak hanya membahas aspek infrastruktur, narasumber juga menjelaskan berbagai kebijakan operasional berbasis sustainable tourism, seperti efisiensi penggunaan energi dan air, pengurangan sampah plastik, konservasi habitat, hingga pemantauan kualitas lingkungan secara berkala.
Diskusi berlangsung secara aktif dengan berbagai pertanyaan mahasiswa terkait pengelolaan destinasi wisata premium, strategi branding kawasan Nusa Dua sebagai lokasi penyelenggaraan berbagai event internasional, hingga keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata. Setelah sesi pemaparan selesai, mahasiswa melakukan observasi langsung di beberapa area kawasan Nusa Dua untuk mengamati fasilitas dan tata kelola destinasi wisata yang diterapkan oleh ITDC. Melalui kegiatan observasi tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan kawasan pariwisata yang terintegrasi, profesional, dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan serta kualitas pengalaman wisatawan.

Secara keseluruhan, kegiatan kuliah lapangan ini memberikan pengalaman akademik dan praktis yang berharga bagi mahasiswa dalam memahami berbagai dinamika pengelolaan destinasi dan industri pariwisata di Bali. Melalui observasi konservasi keanekaragaman hayati di Kebun Raya Bali, mahasiswa belajar tentang urgensi pelestarian ekosistem daratan (SDG 15: Life on Land). Sementara itu, kunjungan ke Desa Wisata Penglipuran dan ITDC Nusa Dua memberikan potret nyata mengenai bagaimana industri pariwisata mampu mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif lewat pemberdayaan UMKM (SDG 8: Decent Work and Economic Growth), sekaligus menjaga keberlanjutan kota dan permukiman adat (SDG 11: Sustainable Cities and Communities). Kolaborasi akademik bersama Universitas Udayana pun memperkuat pilar pendidikan berkualitas (SDG 4: Quality Education) berbasis riset kontekstual. Dengan demikian, mahasiswa memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai pentingnya pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, berbasis budaya, dan melibatkan berbagai pihak dalam proses pengelolaannya. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan analisis, berpikir kritis, serta berkontribusi dalam pengembangan sektor pariwisata di masa mendatang.
Dimanapun kalian berada, terima kasih telah melukiskan memori yang indah. Selamanya Parkouris
Penulis: Jasminda & Atika
Editor: Faiq & Popi