Dunia industri pariwisata khususnya bidang hospitality menuntut lebih dari sekadar penguasaan teori di ruang kelas, namun juga menuntut kesiapan mental dan standar pelayanan yang nyata. Dalam rangka memberikan pemahaman tentang manajemen hospitality dari sudut pandang profesional, Program Studi Pariwisata UGM menghadirkan Faradilla sebagai HR Manager dari The Alana Yogyakarta Hotel & Convention dalam kuliah tamu bertajuk ‘Manajemen Hospitality di Hotel Bintang: Tantangan dan Peluang’ pada hari Rabu (08/04). Melalui kuliah tamu yang digelar di Auditorium Poerbatjaraka kampus FIB UGM, mahasiswa pariwisata berkesempatan mendengar langsung ‘rahasia dapur’ dari Faradilla, bukan hanya soal keterampilan teknis, diskusi hangat ini membuka mata para mahasiswa tentang pentingnya karakter dan empati dalam membangun karir di industri ini.

Dalam paparannya, Faradilla yang menempati posisi HR Manager di hotel berbintang lima ini mengulik rahasia dibalik kesuksesan The Alana Hotel & Convention Centre di era baru digitalisasi, yang sebelumnya mengadopsi prinsip karyawan adalah “alat” produksi yang harus patuh total pada SOP, menuju paradigma baru yaitu karyawan sebagai “brand ambassador” yang paling berpengaruh. Karena karakteristik hotel berbintang memiliki standar yang tinggi, ekspektasi tamu yang perfeksionis, dan persaingan ketat maka pihak hotel harus memikirkan cara bagaimana menjaga standar bintang 5 tanpa membuat staf merasa seperti robot.

Faradilla menjelaskan pendekatan solusi filosofis, yaitu “Fun At Work”. “Bukan bermain-main, melainkan bekerja dengan hati yang ringan, antusias, dan tanpa rasa takut yang berlebihan” ujarnya. Senada dengan hal tersebut, pendekatan ini juga didukung dengan rumus internal joy + SOP Excellence = unforgettable guest experience, karena menurutnya kualitas pelayanan yang diberikan kepada tamu dipengaruhi oleh sikap dan perasaan dari staf itu sendiri. “Tamu balik karena pelayanan yang baik (unforgettable guest experience), happy employees create happy guests” lanjutnya.
Lebih lanjut, strategi fun at work bisa diwujudkan karena sang conductor utama yaitu manajer yang bisa menciptakan harmoni dalam tim. Faradilla menambahkan bahwa manajer bukan hanya memerintah, tetapi juga membuang batasan atau hambatan operasional agar staf bisa bekerja dengan nyaman. Selain itu, manajer tidak hanya hadir secara formal tetapi juga membaur dengan staf seperti makan bersama di kantin, bukan hanya eksklusif ketika duduk di ruang rapat. Terakhir, manajer bisa menciptakan lingkungan dimana staf berani melapor jika ada kesalahan tanpa harus takut dihukum.

Faradilla melanjutkan bahwa manajer juga dapat merubah tantangan menjadi peluang, dengan strategi fun at work kekakuan SOP yang membatasi spontanitas bisa menjadi ruang improvisasi para staf dalam melayani tamu, menciptakan layanan personal yang lebih autentik. Kemudian, tekanan kerja yang tinggi bisa diredam dengan budaya saling apresiasi antar departemen, dengan perkataan sederhana seperti “terima kasih”, maka solidaritas tim yang kuat diantara staf dapat terjamin. Adapun permasalahan seperti sering bergantinya karyawan, dapat dicegah dengan menunjukkan bahwa pekerjaan mereka berdampak besar bagi kesehatan tamu, yang membawa loyalitas staf meningkat.
Selain memberikan ceramah, Faradilla juga berinteraksi dengan mahasiswa melalui sesi tanya jawab yang membuat antusiasme mahasiswa memuncak. Berbagai pertanyaan kritis muncul, mulai dari cara menghadapi tamu yang sulit hingga strategi menghadapi persaingan dengan kecerdasan buatan (AI) di industri hotel. Salah satu momen menarik adalah ketika seorang mahasiswa bertanya mengenai sifat atau keterampilan yang membuat seorang calon staf memiliki peluang diterima yang tinggi bagi lulusan baru tanpa pengalaman kerja formal. Menanggapi hal tersebut, Faradilla memberikan jawaban yang menenangkan sekaligus memotivasi, kemampuan untuk menunjukkan attitude atau sikap, karena menurutnya buat apa punya skill yang mumpuni jika tidak bisa menjaga sikap.

Kuliah tamu ini bukan sekadar pemenuhan jam akademik, melainkan sebuah kompas bagi mahasiswa, khususnya bagi mereka yang kini mulai mempersiapkan diri untuk program magang. Wawasan mengenai standar industri yang diberikan oleh Faradilla memberikan gambaran nyata tentang kompetensi dan keterampilan yang harus segera diasah. Dengan memahami pandangan HR secara langsung, mahasiswa kini memiliki bekal untuk membangun portofolio yang lebih kuat dan personal branding yang lebih tajam agar siap bersaing di pasar kerja industri pariwisata global yang semakin kompetitif.

Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan buah tangan kepada mahasiswa yang berani memberikan pertanyaan sebagai bentuk apresiasi. Melalui kegiatan ini, Program Studi Pariwisata berharap sinergi antara dunia pendidikan dan industri dapat terus terjalin erat. Karena pada akhirnya, persiapan karir yang matang dimulai dari keterbukaan mahasiswa untuk menyerap ilmu langsung dari akarnya.
Kegiatan yang diselenggarakan Prodi Pariwisata FIB UGM ini berkaitan langsung dan berkontribusi dalam mendukung terwujudnya SDG No. 4: Pendidikan Berkualitas, dengan membuka ruang dialog kritis dan mendorong pertukaran pengetahuan lintas budaya sebagai bagian dari pembelajaran global yang inklusif.
Penulis: Faiq
Editor: Popi
Foto: Prodi Pariwisata UGM