Sebanyak delapan mahasiswa dan satu alumni Prodi Pariwisata FIB UGM mengikuti program Ekspedisi Patriot 2025, sebuah program pemberdayaan masyarakat dan penyiapan kawasan transmigrasi yang dicanangkan Kementerian Transmigrasi baru-baru ini. Kedelapan mahasiswa Prodi Pariwisata tersebut tersebar di beberapa lokasi di provinsi Nusa Tenggara Timur, Jambi dan Sulawesi Tenggara.
Dalam program Ekspedisi Patriot 2025, mahasiswa Prodi Pariwisata bertugas untuk melaksanakan program penyiapan kawasan transmigrasi yang berorientasi sebagai pusat-pusat pertumbuhan di berbagai daerah. Dalam pernyataan resmi Kementerian Transmigrasi, Menteri Transmigrasi RI, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menegaskan bahwa di era sekarang, transmigrasi bukan hanya memindahkan penduduk dari satu daerah ke daerah lain, apalagi hanya memindahkan kemiskinan. Program transmigrasi diarahkan sebagai program pemberdayaan masyarakat yang diharapkan dapat mendorong pemerataan pembangunan di berbagai kawasan di Tanah Air melalui penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi.
Bergabungnya mahasiswa Prodi Pariwisata FIB UGM dalam Ekspedisi Patriot diharapkan dapat menambah pengalaman mereka terutama dalam melakukan penelitian lapangan (fieldwork). Dalam program Ekspedisi Patriot ini, mahasiswa Prodi Pariwisata FIB UGM bergabung melalui program magang di pusat-pusat studi yang tersebar di UGM. Pusat-pusat studi inilah yang menjadi penanggung jawab kegiatan pada level kawasan. Mahasiswa Prodi Pariwisata FIB UGM bergabung dalam program magang di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PUSEKRA) UGM sebagai salah satu koordinator pelaksana Ekspedisi Patriot 2025 di lingkungan UGM. Di dalam Tim Ekspedisi patriot (TEP), mereka berperan sebagai asisten peneliti. Sementara itu, satu alumni Prodi Pariwisata FIB UGM bertindak sebagai peneliti yang tergabung di Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM.

Di Kawasan Transmigrasi Lamboya, Kecamatan Lamboya Barat, Kabupaten Sumba Barat, NTT, mahasiswa Prodi Pariwisata melakukan pemetaan, pendataan, dan analisis komoditas unggulan di kawasan transmigrasi sebagai langkah awal dalam mewujudkan kawasan yang berdaya saing dan masyarakat yang berdaya. Dalam pelaksanaannya, pemetaan potensi unggulan dan pengembangannya diarahkan untuk mendukung program pengembangan kepariwisataan yang menjadi salah satu program prioritas Pemda Sumba Barat, NTT. Terlebih kawasan Sumba Barat telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
Di wilayah Kabupaten Sumba Barat, tersebar berbagai titik resort pariwisata kelas premium yang diharapkan mampu mendorong perekonomian lokal jika supply kebutuhan wisatawan dapat dipenuhi oleh masyarakat setempat. “Memang hampir semua kebutuhan wisatawan yang berkunjung ke Nihi Sumba, salah satu resort mewah di pesisir selatan Sumba Barat, masih dikirim dari Bali karena tidak mampu dipenuhi secara lokal di Sumba Barat”, tegas Titus Diaz Liurai, S.Sos., M.M., Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Sumba Barat.
Sementara itu, Ketua Peneliti Ekspedisi Patriot di Kawasan Transmigrasi Lamboya, Sumba Barat, Popi Irawan, M.Sc., Ph.D., yang juga dosen Prodi Pariwisata FIB UGM, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa Prodi Pariwisata dalam Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman melakukan penelitian lapangan dengan mempraktikkan teknik-teknik pengambilan data melalui observasi terlibat, wawancara, dan diskusi terpumpun (focused group discussion/FGD).
Kegiatan Ekspedisi Patriot berupa penelitian, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat transmigran ini selaras dengan SDG 10 (Pengurangan Kesenjangan),SDG 11 (Masyarakat Berkelanjutan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)
[Foto: Prodi Pariwisata]